Teka-teki Pak Basri


Ia senantiasa membagi cintanya pada malam, pada suhu di ambang batas juga segerombolan manusia-manusia yang mulai lupa dengan didihan neraka. Jalan-jalan yang ia jejaki selaksa lorong-lorong yang hambar, serupa terowongan yang ramai oleh nyanyian ringkih dan gelak tawa tak berpenghabisan. Sekali lagi hanya pada malam ia berkawan. Bahkan, ia mulai bersatu bersama bulan bintang demi mengubur alunan ringkih juga gelak tawa dari manusia-manusia yang lupa itu.

Pekerjaannya sebenarnya sederhana; guru ngaji. Setiap senja menyeruak di ufuk barat. Ia siapkan perangkat mengajarnya. Mengasuh anak-anak kampung yang masih ingusan, anak-anak yang bahkan tidak tahu cara memakai jilbab atau bersarung. Sudah cukup lama ia tenggelam dalam aktifitas yang menjenuhkan ini, sejak usianya baru 20 tahun dan kini ia menginjak 61 tahun. Amat lama. Bosan tentu, tapi keistiqomahannya masih perkasa di dadanya.

Ia berangkat setiap siang, mengajar Al-Qur’an di pondok bambu kecil yang dulunya hanya gudang. Pondok itu terlihat tertata kini. Sekat-sekat kayu membatasi antar kelas mengaji. Pak Basri, begitu orang menyebutnya tengah mendidik sekitaran 30 murid. Sangat mudah mengenali kedatangan Pak Basri, parfumnya khas dan sudah tercium dari jauh. Bahkan entah oleh sebab apa, wajahnya selalu menyimpan   aura bersinar yang tidak pernah usai cahyanya sejak dulu.
Read more »»  

Muhammad : Lelaki Bangsa Arab




Muhammad bin Abdullah, seorang lelaki yang kisah-kisahnya selalu disampaikan oleh Abah ketika aku  masih kecil. Begitulah Abah, belasan tahun yang lalu beliau selalu mengajakku duduk berdua setelah mengaji.  Kami terbiasa berdua di malam hari dan Abah bercerita tentang Muhammad.  Setiap malam, hingga bintang-bintang seperti tersenyum melihat seorang anak kecil sepertiku diajari dengan penuh kasih tentang Muhammad bin Abdullah. Kebiasaan ini terjadi setiap harinya.  Malam berganti malam dan aku tidak pernah benar-benar  tahu dengan lelaki yang selalu diceritakan jalan hidupnya oleh Abahku itu.

Saat masih kecil, aku selalu membayangkan seperti apa wajah Muhammad bin Abdullah itu? Kadang aku membayangkan ia berwajah seperti Abah. Apa karena Abahku juga bernama Muhammad? Apa karena Abah juga rajin sembahyang? Entahlah, aku masih kecil. Namun pelan-pelan ketika aku mulai mengikuti kegiatan marhabanan di pesantren Roudloh yang digelar setiap malam Jum'at, aku kemudian sadar bahwa nama Muhammad sering disebut-sebut di sana dengan nyanyian.

“Kanjeng Nabi itu lelaki yang tangguh, anakku” ujarnya. Aku dengarkan setiap kata yang disampaikan Abah dengan kepolosan. Jujur saat itu aku sedikit  heran dengan alasan Abah meletakkan kata “Kanjeng” sebelum Muhammad. Belakangan saya tahu bahwa  “Kanjeng” adalah pengganti kata “Tuan” dalam tradisi Jawa. Maka waktu terus berjalan dan dalam lingkungan kejawaan yang kental, aku mulai akrab dengan nama Muhammad.

Salah satu kisah yang selalu saya ingat saat kecil dulu tentang Muhammad bin Abdullah adalah ketika Halimatus Sa’diyah, ibu susu Muhammad datang menemui Muhammad. Ia ketuk pintu rumah Rasulullah, aku membayangkan bagaimana perasaan seorang Halimah mendapati anak susunya ternyata menjadi seorang Nabi, menjadi panutan jutaan orang. Nabi akhirnya membukakan pintu, ia tersentak penuh bahagia. Sungguh  yang dilakukan oleh Muhamad kala itu sangat istimewa. Secepat mungkin ia lepaskan surban di kepalanya, ia bentangkan di atas kursi dan mempersilakan Halimah duduk.

Di akhir cerita Abah berkata “Bayangkan, apa yang kamu tangkap?”. Aku hanya terdiam tak berkata apa-apa, diamku melahirkan sunggingan senyum di bibir Abah. Tapi belasan tahun kemudian, aku baru memahami maksud Abah. Abah hendak berpesan “Bayangkan anakku, jika kepada Ibu susunya saja Rasulullah begitu memuliakan. Bagaimana kepada Ibu kandungnya?”. Subhanallah. Dialah Muhammad bin Abdullah, lelaki bangsa Arab yang kisah-kisah hidupnya kerap mengiringi malam-malamku menjelang tidur.

Ini hanya sekilas. Sehingga di usia ke 20 ini, setiap kali membaca sejarah hidup Nabi Muhammad dari berbagai literatur aku selalu terkenang dengan masa ketika aku dan Abah duduk berdua di malam hari. Ia menatapku dan bercerita dengan penuh semangat tentang lelaki tampan dari bangsa Arab. Lelaki yang ditinggal oleh Ayah dan Ibunya sejak kecil. Lelaki yang kemudian begitu dicintai oleh 1.5 miliar manusia di seantero dunia.

Muhammad bin Abdullah..
Seperti apakah aku merindukan wajahmu?
Kecuali hanya sebatas cerita-cerita yang disampaikan oleh Abahku saat aku kecil dulu.

Shollu Alaihi Wasallim..

-----
Tulisan ini saya persembahkan buat Ahmad Hikmi yang selalu mengajarkan saya untuk selalu mencintai Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Seorang sahabat yang selalu membawa tasbih ke masjid. 
Read more »»  

Cerita Seri I (Ibu)





I
Dalam hal daya jelajah pasar dan super market, juara pertama diraih oleh Ibu Musholaha. Entah Maha Besar Dia yang telah menciptakan kaki dengan tulang yang sebenarnya adalah besi dalam kaki ibu. Sehingga keliling carefour selama empat jam tidak membuat beliau tersiksa, sementara Ari dan Ubed sudah kadung ngesot di pojokan mall.  #Nahloh?

Sebagai anak yang baik, saya tetap sabar menemani langkah ibu. Meski kadang-kadang ketika ibu sudah berjalan 10 meter di depan saya, saya sudah sakau dan ditolong orang-orang di mall. Adegan pun semakin mengharukan, ketika instrument Idris Sardi menemani sakauku karena letih berkeliling mall. Aku hanya menatap langit yang biru dan berujar “Maaf ibu, kakiku sengkle” #Prak!! Hahaha.

Dan dengan kejang-kejang yang tersisa saya paksakan untuk berjalan. Lantas kemana yang lain? Kemana Ari, Mas Chotib, Mbak Ia, Mbak Mila, Seilan dan yang lain. Dan sesampainya di rumah, ternyata di kamar ada “urut party”. Kesimpulannya ; Ibu punya daya jelajah mall yang luar biasa. Sehingga Seilan tak henti-hentinya menangis sambil kencing di kamar mandi dan bilang dengan nada cemberut khas anak kecil dengan mulut yang monyong.

“Besok aku mau nelfon ultraman. Babah. Biar dibakar mallnya. Eee emak iku keliling mall sampai ibuku loro. Gini nih siapa yang mau cebokin???!!” Dan ruangan pun hening. Seilan diam-diam cebok dengan air kencingnya sendiri. “Wes gapopo, kesuen”

#NGIK

Ceritanya cukup sampai di sini. Tidak panjang, biar yang baca kagak bosen. Mari kita lanjutkan ke tulisan yang kedua.

II
Mungkin setiap setelah solat, ibu tidak hanya berdzikir dengan asma Allah saja. Tapi selain nama-nama Allah, Ibu juga berdzikir dengan menyebut satu kalimat yang membawa kemaslahatan seluruh rumah dengan penuh sakinah mawaddah wa rahmah dunia dan akhirat hingga kiamat tiba. Kalimat itu adalah “gembok”.

Begitulah, kamera CCTV di kamar ibu selalu merekam dengan nyata kejadian betapa Ibu selalu mengingat asma gembok yang adil dan beradab (pancasila kalek). Dan kamera CCTV merekam bahwa ibu setiap malam terjaga 20 kali dan setiap kali bangun ia senggol kaki mbak mutik.

I
“Wes digembok pagernya?”
“Wes mak”

Tidur lagi

II
“Wes digembok pagernya?”
“Uwes mak..”

Tidur lagi

III
“Wes digembok pagernya?”

gak ada jawaban, ternyata mbak mutik………..
menghilang!!!!!!!!

Ibu berdiri dengan membenarkan sewek jawa yang mau lepas. Kemudian teriak “Mutiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkk. Kau lari dariku!!!”
Dari arah Mushollah mbak Mutik menangis ketakutan dan berdoa

"Ya Allah, aku ngantuk eh.. Gak nyenyak tidur. Ampunilah dosaku, karena aku ngantuk”

Dan ibu mulai terharu mendengar doa anak sulungnya ini. Kemudian ibu deprok di tangga lantai 3 rumah dengan air mata bercucuran. Sambil berkata “Semua ini gara-gara kamu, Mbok. GEMBOK” Hahaha. Tapi syukur, setelah kejadian itu Ibu sudah jarang lagi terjaga malam hari dan was-was soal gembok. Jika dulu setiap malam ibu terjaga sebanyak 20 kali untuk menanyakan perihal rumah yang belum digembok. Maka kini, ibu hanya terjaga sebanyak 19 kali. Lumayan, berkurang satu.

Dan mbak Mutik merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan ibu setiap malam. Maka ia meminum obat tidur dosis tinggi. Maka wajar jika tiap hari kami sibuk membersihkan ayan yang meleleh kemana-mana di kamar Ibu setiap pagi.

Di sini sudah jam 9, ngantuk!
Read more »»  

Aku Terlambat, Aku Terburu-buru





Sangat terlambat. Sangat? Sebenarnya tidak terlalu sangat. Tapi aku sadar ini benar-benar terlambat. Aku baru memiliki sebuah blog ketika usiaku sudah menginjak angka 20. Lantas kemana sajakah diriku selama ini wahai aku? Aku tidak mengerti, yang pasti ini sebuah kelengahan. Yang pasti aku masih syukur aku tidak sungguh-sungguh hidup tanpa memiliki blog. Setidaknya aku wafat dan masih meninggalkan sebuah blog yang sederhana ini.

Keterlambatan ini melahirkan keterburu-buruan dalam diriku. Aku mulai buru-buru untuk menulis apapun. Aku mulai buru-buru untuk memasukkan berbagai karya. Bahkan keterburu-buruan itu lagi-lagi melahirkan tatanan bahasa yang semrawut. Font yang tidak imbang bahkan EYD yang terbang entah kemana.

Namun pelan-pelan aku sisihkan waktu untuk memperbaiki blog ini. Membenarkan yang tidak benar. Menepatkan yang salah. Meluruskan yang bencong. Tentu dalam kadar kemampuan saya saja. Kemampuan sebagai seorang manusia yang penuh salah dan khilaf. Yang juga tak mungkin sempurna.

Selamat membaca


Read more »»  

Dari Rossa ke MLTR





Masih sangat pagi sebenarnya.  Tapi aku masih menikmati empuknya kasur dan hawa dingin AC yang sudah menyebar di kamar. Terlalu sayang untuk bangun dan melepas selimut. Tapi sepagi ini, di ruang tamu kakak perempuanku sudah dengan santai memutar lagu-lagu Rossa. Sangat nikmat dan membuatku semakin ingin tidur.

Lagu Rossa kemudian menjadi sangat akrab di rumah kami. Lagu-lagu “Tegar, Andaikan Kau Tahu” menjadi sangat renyah dinikmati di pagi hari. Bahkan tanpa aku sadari, aku pelan-pelan mulai hafal dengan lagu-lagu yang notabene lebih pas untuk kaum hawa ini. Tapi jujur, lagu-lagu Rossa sangat nyaman sehingga tahun-tahun berlalu dan kakak-kakak perempuanku sudah menikah. Aku masih sangat ingat dengan lagu-lagu itu.

Lagu Rossa digandrungi ketika aku masih SD. Kemudian selepas itu aku sudah tidak lagi melihat kakak-kakak perempuanku itu memutar lagu Rossa kembali. Mungkin sudah tergerus mode. Mungkin sudah ada lagu yang lebih baru sehingga lagu Rossa kini tak lagi aku dengar di pagi hari. Atau mungkin mereka sudah sibuk dengan kuliah. Atau juga mungkin karena tape di ruang tamu yang biasa dibuat memutar lagu rusak. Tapi pastinya, lagu-lagu itu sudah benar-benar “sirna” dari rumahku ketika mereka sudah menemukan kehidupan mereka. Membangun rumah tangga baru dengan suami mereka sehingga tak akan ada lagi yang memutar lagu-lagu Rossa di ruang tamu seperti tahun-tahun yang telah lewat itu.

Kemudian aku pun lupa dengan lagu itu. Tapi aku tak bisa mengelak bahwa lagu-lagu Rossa (terutama album kedua) sangat lekat dalam ingatan. Kadang ketika sedang merasa sepi di pondok, aku nyanyikan sendiri lagu itu. Maka seketika kenangan-kenangan ketika kita masih utuh dan semua anggota keluarga masih lengkap timbul kembali.

Oh datanglah pujaanku.
Sebenarnya hati ini hanya untukmu
(Andaikan Kau Tahu – Rossa)

Jujur di masa-masa akhirku di Sumenep. Lebih tepatnya di Al-Amien.  Aku seringkali seorang diri menyanyikan lagu itu ketika malam mulai gelap. Lagu yang melow memang. Tapi entah kenapa ketika lagu itu bersenandung ingatan-ingatan akan keluarga terlebih kakak-kakak perempuanku tergambar sangat jelas.  Selanjutnya aku merasa mencintai mereka. Merasa sangat merindukan mereka. Kangen dengan suasana pagi dan sore hari ketika lagu itu diperdengarkan di rumah dan diiringi dengan suara kakak-kakak perempuanku yang juga bagus. Demikianlah, lagu-lagu itu sedikit-banyak telah mengobati rasa rinduku pada mereka yang lima tahun berpisah denganku.

Jika lagu Rossa mengingatkanku pada kakak-kakak perempuanku. Maka bagaimana dengan kakak-kakak lelakiku?  Karena mereka cowok, mereka mungkin agak “berat” untuk menggandrungi seorang Rossa. Barangkali takut istrinya cemburu, hehehe.  Tapi mereka tak pernah keberatan, bahkan sering ketika kita jalan bersama satu keluarga. Kami memutar lagu-lagu Rossa di dalam mobil sepanjang perjalanan. Tapi itu sementara, karena yang lebih jelas dan sangat jelas, kakak lelaki yang satu itu penggemar berat Guns n Roses. Sedang yang satu lagi pengagum MLTR.

Tidak banyak cerita soal MLTR dan GnR. Hanya saja, beberapa bulan yang lalu. Ketika sedang mengantarkan ibu yang hendak berobat.  Di dalam mobil aku menemukan kaset yang agak lusuh. Tampak darinya bahwa kaset ini jarang diputar, bahkan sengaja diabaikan. Maka untuk melepaskan rasa penasaran segara aku putar kaset ini. Nada demi nada mendayu kemudian aku mengenang dan terus mengenang akan masa yang telah lampau, beberapa tahun yang lalu kemudian aku sadar bahwa lagu-lagu ini begitu sering diputar oleh kakak lelakiku yang waktu itu masih muda. Lagunya nyaman dan enak didengar.Kemudian sepulang dari mengantarkan ibu, aku segera mendownload lagu-lagu terbaik yang pernah membuat nama band asal Denmark ini melambung di era 90-an. “Nothing To Lose, Paint My Love,  Breaking My Heart dll”. 

Selanjutnya, di Kairo aku kerap memutar lagu ini. Jika untuk memupus kerinduan kepada kakak perempuan aku mesti melewati mediator lagu-lagu Rossa, maka untuk memusnahkan rasa kangen pada kakak-kakak lelakiku aku melalui mediator lagu-lagu MLTR. Tapi kenyataannya, lagu itu bukan melepaskan kangen dan rindu yang mendekam. Tapi justru menambahnya.  

Read more »»  
http://albarnation.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-slide-show-di-blog.html#ixzz2NQNHNucp